Kamis, 22 Januari 2009

Puisi Favorite Saya


Kulyubi
Ismangun



Renungan Indah


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....





- Puisimu ini bagus sekali lho!
- Ah, yang bener? Tapi, rasanya iya juga sih! he he he....

Rabu, 21 Januari 2009

My Fam

Ini sebagian dari saudara kita. Di antara mereka baru satu orang yang ikut PIPB. Kalau mereka ikut semua, asyik juga. Kalau tidak, yaa ga pa-pa. Kan lillahi ta'ala!
Hai, saudara-saudaraku, aku pajang foto-foto ini sebagai tanda kangen. Tapi bukan hanya kangen ngumpul2.
Aku rindu kita bersatu. Sama2 menyerukan, "Isyhaduu bi-annaa muslimuun!"



SHILATURRAHMI & MUSYAWARAH
Alumni Peserta Forum Pengantar Studi Al Qur'an
"Kita pererat persaudaraan untuk menuju hari esok yang lebih baik."
Yogyakarta 26 Syawwal 1429 H /24-25 Oktober 2008 M


(1) Kerukunan kakak dan adik! (2) Kerukunan seniman dan pejabat pemda!

'Mejeng' bersama mantan menteri. Lumayan! (Sayang, kameranya pas low batt!)



Wuaah, ngantuk neeh!

(1) Awas! Jangan ditiru. Adegan ini dimainkan oleh orang yang benar-benar ngantuk!
(2) Daripada ngantuk di dalam, lebih baik cari kopi di luar!

Atau main pijit-pijitan boleh juga lah. Ayo, pijit pundak dan leher. Biar gampang tengok kanan-kiri, lihat-lihat keadaan umat. Jangan lupa berbalik ya? Gantian!

Awas, jangan pijit aku ya? Aku bisa mijit leherku sendiri kok!

Liat apaan sih Pak? Ngga, ini kawan lebih muda dari saya, tapi ubannya kok lebih banyak?

Katanya mau ngelawan saya?! Baru saya tunjuk aja udah jatoh!
Makanya jangan coba-coba nantang guru!
Bang Husein ke mana aja sih? Istrinya kok ditinggal-tinggal
melulu?! Ya udah, biarin. Kan ada kita yang jagain!

Jalannya cepetan doong. Saya udah laper banget nih!
Lapar sih lapar, tapi jangan terburu-buru gitu Pak! Ntar kesandung deh...!

Iya. Santai aja lah...!


Ayo, makan, makan! Jangan lupa baca doanya ya?

Abis makan ngapain lagi ya? Gitu aja bingung! Yaa 'belajar' lagi doong!

Pada belajar melulu! Cape deh!
Orang tua harus didengar...! (Iya, soalnya dia sendiri udah
kurang dengar, he he!)
(1) Rokok saya kok ga nyala ya? Ah, ga pa-pa deh.
Ngerokok tanpa api malah jadi awet! (2) Kalau suka ngerokok
harus banyak minum! (3) Iya. Tapi bagi-bagi saya dong airnya.
Saya kan haus juga!
Di depan Youth Center Sleman, Yogyakarta:
"Horre! Aku paling cantik...!!!"

Selasa, 20 Januari 2009

Apa Itu Partai Islam Para Blogger? (3)

Jadi, menurut yang Anda baca dan dengar, demokrasi bukan jawaban yang tepat untuk mencapai tujuan hakiki kemanusiaan? Menurut Anda, di mana letak kelemahan demokrasi?

Seperti biasa. Sesuatu yang dianggap hebat, kelemahannya justru terletak pada kehebatannya sendiri!

Wah, pernyataan yang sangat menarik! Coba jelaskan apa yang Anda maksud!

Kehebatan demokrasi itu kan jelas terletak pada dalil bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat untuk rakyat. Dalam kenyataan, yang "dari rakyat" itu apa?

Suara!

Ya, suara. Dan suara ini berarti kekuasaan. Suara rakyat diberikan kepada wakil mereka. Wakil mereka lalu menyerahkan kepada para eksekutor dalam bentuk mandat (tugas; komando; perintah), dan selanjutnya kaum eksekutif (pemerintah) menghadapkan kekuasaan itu kepada siapa? Kepada rakyat kan? Jadi, dengan sistem demokrasi, rakyat itu ibarat memberikan senjata kepada para wakil mereka (legislatif), yang kemudian oleh kaum eksekutif senjata itu ditodongkan, dan kadang malah ditembakkan secara langsung kepada rakyat sendiri. Jadi senjata makan tuan kan?

Wah, Anda keterlaluan! Terlalu sinis!

Apa yang keterlaluan? Apa yang terlalu sinis? Kita sudah mencoba demokrasi berkali-kali. Mulai dari demokrasi liberal, demokrasi terpimpin di masa Sukarno; kemudian demokrasi terkendali di zaman Suharto; lalu demokrasi liberal lagi di era reformasi. Hasilnya bagi rakyat apa? Kekuasaan yang mereka amanatkan kepada para wakil dan mandataris itu toh malah dihadapkan kepada rakyat sendiri!

Buktinya?

Rakyat tetap sulit mendapatkan hak-hak mereka. Mereka yang oleh demokrasi diagung-agungkan sebagai pemilik kekuasaan itu, kenyataannya malah lebih sering menjadi korban kekuasaan.

Itu kan karena para penguasanya yang korup, bukan karena sistemnya yang salah!

Kalau memang sistemnya tidak salah, kenapa sistem itu tidak bisa mencegah penguasa melakukan korupsi?

Korupsi itu kan soal moral manusianya yang bejat, bukan soal sistem pemerintahannya!

Tidak juga. Tidak benar begitu. Saya selalu ingat kata-kata Nurcholis Madjid yang menegaskan bahwa demokrasi tidak bisa menjamin terpilihnya pemimpin yang baik. Malah dia bilang, kurang-lebih, bila dengan demokrasi yang terpilih jadi pemimpin itu adalah tuyul atau setan gundul, maka kita harus bersedia dipimpin oleh tuyul atau setan gundul.

Hm, ya, ya! Tapi, kalau begitu, lantas penggantinya apa?

(BERSAMBUNG)

Senin, 19 Januari 2009

This gentleman is very very attractive, isn't he?


Anda pasti kenal tokoh ini!
Waktu saya kirimi SMS pemberitahuan PIPB, beliau kirim SMS balik.
Katanya, "Gabung dg kamu, ok. Stiap saat."

Beneran tuh, Bang?

Kalau gitu, ga keberatan dong saya pajang gambar Abang di sini?
Itung-itung bantuin kampanye kan? He he he...!

Minggu, 18 Januari 2009

Apa Itu Partai Islam Para Blogrrr? (2)

Tanya: Anda tetap akan bikin PIPB ini, walau seandainya anda punya banyak uang. Bisa anda gambarkan lebih lanjut PIPB itu sebernanya partai apa?

Jawab:
Ini partai luar biasa! Mengapa? Sebab, PIPB tidak akan dan tidak perlu ikut pemilu. Dengan begitu, partai apa pun yang mau ikut pemilu tidak perlu merasa tersaingi atau terancam oleh PIPB.

T: Tapi, partai yang tidak berniat ikut pemilu apa bisa disebut partai? Bukankah partai-partai memang dibikin justru untuk ikut pemilu? Untuk ikut proses dan prosedur demokrasi?

J: Kan sudah banyak orang bilang bahwa selama ini kita cuma menjalankan demokrasi formalitas, bukan demokrasi hakiki. Untuk menampilkan dan meramaikan formalitas itulah (sebenarnya!) partai-partai kita dibikin.

T: Maksud anda mereka yang bikin partai-partai itu hanya menunggangi demokrasi?

J: Ya. Kalau tidak salah!

T: Sayang, saya tidak tahu anda salah atau benar. Tapi, sebaliknya, apakah PIPB bukan hanya partai-partaian, alias partai mainan, partai bohongan?

J: Memang, bila dilihat dari sudut pandang demokrasi formalitas tadi, PIPB seperti partai main-main atau bohongan. Tapi PIPB ini sebenarnya muncul seiring dengan merebaknya kekhawatiran kalau-kalau demokrasi itu sendiri sudah diambang kehancuran.

T: Lho, kok anda ngomong begitu?

J: Sebenarnya itu bukan saya yang ngomong! Saya membaca dan mendengar bahwa sistem demokrasi sudah terbukti berulang-ulang sebagai "bukan jawaban" yang tepat untuk mencapai tujuan hakiki kemnusiaan. Bahkan demokrasi juga sebenarnya tidak mampu menegakkan dan atau memperjuangkan tegaknya hak asasi manusia (HAM).

(BERSAMBUNG)

Apa Itu Partai Islam Para Blogrrr? (1)


Tanya:
Wah, agak aneh juga tuh PIPB alias "Partai Islam Para Blogrrr". Maksudnya apa?

Jawab: Pertama, blogerr itu plesetan dari blogger. Kedua, ini adalah partai Islam, untuk orang Islam (muslim) yang suka nge-blog dan sudah go-blog atau yang suka nge-web dan punya web di internet.

T: Untuk para blogger dan webber saja?

J: ya! Tapi mereka tidak dilarang mengajak yang bukan blogger dan webber untuk bergabung.

T: O, kalau begitu PIPB hanya mau menjadikan mereka sebagai juru kampanye terselubung?

J: Tidak terselubung. Mereka boleh berkampanye secara suka-rela melalui dunia maya.

T: Sebenarnya apa sih yang mau ditawarkan kepada mereka?

J: Persatuan, persahabatan, persaudaraan dan kerja sama antar sesama muslim.

T: Wah, rasanya itu basi deh!

J: Anda keliru! Itu klasik, bukan basi. Sesuatu yang klasik artinya sesuatu yang tidak pernah basi. Kalau itu anda anggap basi, berarti anda hidup dalam keadaan sebaliknya.

T: Kenapa hanya hanya muslim?

J: Karena penghuni terbanyak negara kepulauan ini adalah muslim. Kalau selama ini bangsa kita menemukan banyak masalah, kena banyak musibah, letak kesalahannya mungkin pada mereka, atau tepatnya beban tanggung jawabnya, beban moralnya, mau tak mau harus ditanggung oleh mereka.

T: Tapi, bukankah sudah ada partai-partai Islam? Apakah anda menganggap mereka gagal?

J: Ya partai-partai Islam itu biarkan saja bekerja menurut cara mereka. Toh dilarang juga mereka tak akan berhenti. Bisa-bisa malah ngamuk kan? Ha ha!

T: Saya bertanya: "Apakah anda mengganggap mereka gagal?"

J: Gagal bersatu; itu kan kenyataan sejak dulu. Sejak negara ini berdiri. Dan, kalau gagal bersatu, apa mereka bisa jadi kuat?

T: Karena itu, anda punya obsesi untuk mempersatukan mereka?

B: Tidak. Untuk apa memelihara obsesi atau ambisi mempersatukan mereka? Walau tidak boleh diremehkan, mereka kan hanya orang-orang elite! Padahal kekuatan Islam itu justru pada umat awam, pada rakyat. Sebab, elite itu sedikit, sedangkan rakyat itu banyak. Kalau para elite sibuk sendiri-sendiri, mengejar obsesi dan ambisi sendiri-sendiri, umat yang awam tentunya harus bangkit dari keterpurukan, belajar mengurusi diri sendiri.

T: Tapi, bukankah umat awam itu membutuhkan para elite untuk memimpin mereka bangkit dari keterpurukan?

J: Ya, tapi bukan elite politik, atau elite agama yang asyik berpolitik. Umat awam itu hanya membutuhkan para elite muslim yang hanif.

T: Misalnya seperti apa?

B: Elite itu kan artinya a group of people who are the richest, most powerful, best educated etc people in society, and who do not want others to share the advantages of their position. (Sekelompok orang dalam masyarakat yang berstatus paling kaya, sangat berkuasa, berpendidikan terbaik, dan mereka tidak mau berbagi posisi dengan kalangan lain). Begitu menurut sebuah kamus. Nah, kalau yang dimaksud elite itu seperti itu, yaa, mereka memang tidak merasa harus peduli pada umat awam atau rakyat jelata. Sebaliknya, umat awam juga tidak membutuhkan mereka.

T: Tadi anda menyebut
"para elite muslim yang hanif". Gambaran anda tentang mereka itu seperti apa?

J: Kira-kira seperti para sahabat Nabi Muhammad lah!

T: Wow! Begitu ya? Dan anda, maksud saya PIPB mempunyai orang-orang seperti itu?

J: Belum sih! Tapi kalau yang mendekati mereka, yang berusaha menjadi seperti mereka, yaa sudah ada lah!

T: Jadi, mereka itulah orang-orang elitenya PIPB ya?

J: Ya. Tapi elite dalam kehanifan ya! Elite dalam hasrat dan semangat untuk menikuti keteladanan Rasulullah.

T: Sekali lagi, PIPB sudah mempunyai orang-orang seperti itu?

J: Insya-Allah!

T: Dan mereka dengan PIPB hanya akan mengurusi umat Islam?

J: Ya!

T: Kenapa?

J: K
arena mengurusi mereka saja pun sudah cukup merepotkan. Dan, sebaliknya, kalau mereka sudah terurus, pastilah bangsa kita ini bisa mencapai tujuan seperti yang tertulis dalam UUD itu.

T: Tapi, apa iya PIPB mampu mengurusi mereka?

J: Yaa kita coba saja. Lagi pula, sebenarnya PIPB bukan mau mengurusi mereka. Cuma mengajak mereka bergabung, lalu kita sama-sama mengurusi diri, mengurusi umat, mengurusi bangsa, dan ikut mengurusi dunia, kalau bisa.

T: O, begitu ya? Tapi, apa iya partai macam PIPB ini bisa jalan?

J: Blog ini adalah tanda bahwaPIPB sudah jalan, dan kita akan jalan terus, sampai berhasil atau sama sekali memang tidak bisa berjalan.

T: Saya curiga. Jangan-jangan sebenarnya anda ingin membuat partai politik tapi tidak punya duit!

J: Seandainya sekarang saya punya duit, saya tidak akan bikin partai politik! Saya tetap akan bikin Partai Islam Para Bogrrr ini!

(BERSAMBUNG)