Jadi, menurut yang Anda baca dan dengar, demokrasi bukan jawaban yang tepat untuk mencapai tujuan hakiki kemanusiaan? Menurut Anda, di mana letak kelemahan demokrasi?
Seperti biasa. Sesuatu yang dianggap hebat, kelemahannya justru terletak pada kehebatannya sendiri!
Wah, pernyataan yang sangat menarik! Coba jelaskan apa yang Anda maksud!
Kehebatan demokrasi itu kan jelas terletak pada dalil bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat untuk rakyat. Dalam kenyataan, yang "dari rakyat" itu apa?
Suara!
Ya, suara. Dan suara ini berarti kekuasaan. Suara rakyat diberikan kepada wakil mereka. Wakil mereka lalu menyerahkan kepada para eksekutor dalam bentuk mandat (tugas; komando; perintah), dan selanjutnya kaum eksekutif (pemerintah) menghadapkan kekuasaan itu kepada siapa? Kepada rakyat kan? Jadi, dengan sistem demokrasi, rakyat itu ibarat memberikan senjata kepada para wakil mereka (legislatif), yang kemudian oleh kaum eksekutif senjata itu ditodongkan, dan kadang malah ditembakkan secara langsung kepada rakyat sendiri. Jadi senjata makan tuan kan?
Wah, Anda keterlaluan! Terlalu sinis!
Apa yang keterlaluan? Apa yang terlalu sinis? Kita sudah mencoba demokrasi berkali-kali. Mulai dari demokrasi liberal, demokrasi terpimpin di masa Sukarno; kemudian demokrasi terkendali di zaman Suharto; lalu demokrasi liberal lagi di era reformasi. Hasilnya bagi rakyat apa? Kekuasaan yang mereka amanatkan kepada para wakil dan mandataris itu toh malah dihadapkan kepada rakyat sendiri!
Buktinya?
Rakyat tetap sulit mendapatkan hak-hak mereka. Mereka yang oleh demokrasi diagung-agungkan sebagai pemilik kekuasaan itu, kenyataannya malah lebih sering menjadi korban kekuasaan.
Itu kan karena para penguasanya yang korup, bukan karena sistemnya yang salah!
Kalau memang sistemnya tidak salah, kenapa sistem itu tidak bisa mencegah penguasa melakukan korupsi?
Korupsi itu kan soal moral manusianya yang bejat, bukan soal sistem pemerintahannya!
Tidak juga. Tidak benar begitu. Saya selalu ingat kata-kata Nurcholis Madjid yang menegaskan bahwa demokrasi tidak bisa menjamin terpilihnya pemimpin yang baik. Malah dia bilang, kurang-lebih, bila dengan demokrasi yang terpilih jadi pemimpin itu adalah tuyul atau setan gundul, maka kita harus bersedia dipimpin oleh tuyul atau setan gundul.
Hm, ya, ya! Tapi, kalau begitu, lantas penggantinya apa?
(BERSAMBUNG)
Selasa, 20 Januari 2009
Senin, 19 Januari 2009
This gentleman is very very attractive, isn't he?
Minggu, 18 Januari 2009
Apa Itu Partai Islam Para Blogrrr? (2)
Tanya: Anda tetap akan bikin PIPB ini, walau seandainya anda punya banyak uang. Bisa anda gambarkan lebih lanjut PIPB itu sebernanya partai apa?
Jawab: Ini partai luar biasa! Mengapa? Sebab, PIPB tidak akan dan tidak perlu ikut pemilu. Dengan begitu, partai apa pun yang mau ikut pemilu tidak perlu merasa tersaingi atau terancam oleh PIPB.
T: Tapi, partai yang tidak berniat ikut pemilu apa bisa disebut partai? Bukankah partai-partai memang dibikin justru untuk ikut pemilu? Untuk ikut proses dan prosedur demokrasi?
J: Kan sudah banyak orang bilang bahwa selama ini kita cuma menjalankan demokrasi formalitas, bukan demokrasi hakiki. Untuk menampilkan dan meramaikan formalitas itulah (sebenarnya!) partai-partai kita dibikin.
T: Maksud anda mereka yang bikin partai-partai itu hanya menunggangi demokrasi?
J: Ya. Kalau tidak salah!
T: Sayang, saya tidak tahu anda salah atau benar. Tapi, sebaliknya, apakah PIPB bukan hanya partai-partaian, alias partai mainan, partai bohongan?
J: Memang, bila dilihat dari sudut pandang demokrasi formalitas tadi, PIPB seperti partai main-main atau bohongan. Tapi PIPB ini sebenarnya muncul seiring dengan merebaknya kekhawatiran kalau-kalau demokrasi itu sendiri sudah diambang kehancuran.
T: Lho, kok anda ngomong begitu?
J: Sebenarnya itu bukan saya yang ngomong! Saya membaca dan mendengar bahwa sistem demokrasi sudah terbukti berulang-ulang sebagai "bukan jawaban" yang tepat untuk mencapai tujuan hakiki kemnusiaan. Bahkan demokrasi juga sebenarnya tidak mampu menegakkan dan atau memperjuangkan tegaknya hak asasi manusia (HAM).
(BERSAMBUNG)
Jawab: Ini partai luar biasa! Mengapa? Sebab, PIPB tidak akan dan tidak perlu ikut pemilu. Dengan begitu, partai apa pun yang mau ikut pemilu tidak perlu merasa tersaingi atau terancam oleh PIPB.
T: Tapi, partai yang tidak berniat ikut pemilu apa bisa disebut partai? Bukankah partai-partai memang dibikin justru untuk ikut pemilu? Untuk ikut proses dan prosedur demokrasi?
J: Kan sudah banyak orang bilang bahwa selama ini kita cuma menjalankan demokrasi formalitas, bukan demokrasi hakiki. Untuk menampilkan dan meramaikan formalitas itulah (sebenarnya!) partai-partai kita dibikin.
T: Maksud anda mereka yang bikin partai-partai itu hanya menunggangi demokrasi?
J: Ya. Kalau tidak salah!
T: Sayang, saya tidak tahu anda salah atau benar. Tapi, sebaliknya, apakah PIPB bukan hanya partai-partaian, alias partai mainan, partai bohongan?
J: Memang, bila dilihat dari sudut pandang demokrasi formalitas tadi, PIPB seperti partai main-main atau bohongan. Tapi PIPB ini sebenarnya muncul seiring dengan merebaknya kekhawatiran kalau-kalau demokrasi itu sendiri sudah diambang kehancuran.
T: Lho, kok anda ngomong begitu?
J: Sebenarnya itu bukan saya yang ngomong! Saya membaca dan mendengar bahwa sistem demokrasi sudah terbukti berulang-ulang sebagai "bukan jawaban" yang tepat untuk mencapai tujuan hakiki kemnusiaan. Bahkan demokrasi juga sebenarnya tidak mampu menegakkan dan atau memperjuangkan tegaknya hak asasi manusia (HAM).
(BERSAMBUNG)
Apa Itu Partai Islam Para Blogrrr? (1)
Tanya: Wah, agak aneh juga tuh PIPB alias "Partai Islam Para Blogrrr". Maksudnya apa?
Jawab: Pertama, blogerr itu plesetan dari blogger. Kedua, ini adalah partai Islam, untuk orang Islam (muslim) yang suka nge-blog dan sudah go-blog atau yang suka nge-web dan punya web di internet.
T: Untuk para blogger dan webber saja?
J: ya! Tapi mereka tidak dilarang mengajak yang bukan blogger dan webber untuk bergabung.
T: O, kalau begitu PIPB hanya mau menjadikan mereka sebagai juru kampanye terselubung?
J: Tidak terselubung. Mereka boleh berkampanye secara suka-rela melalui dunia maya.
T: Sebenarnya apa sih yang mau ditawarkan kepada mereka?
J: Persatuan, persahabatan, persaudaraan dan kerja sama antar sesama muslim.
T: Wah, rasanya itu basi deh!
J: Anda keliru! Itu klasik, bukan basi. Sesuatu yang klasik artinya sesuatu yang tidak pernah basi. Kalau itu anda anggap basi, berarti anda hidup dalam keadaan sebaliknya.
T: Kenapa hanya hanya muslim?
J: Karena penghuni terbanyak negara kepulauan ini adalah muslim. Kalau selama ini bangsa kita menemukan banyak masalah, kena banyak musibah, letak kesalahannya mungkin pada mereka, atau tepatnya beban tanggung jawabnya, beban moralnya, mau tak mau harus ditanggung oleh mereka.
T: Tapi, bukankah sudah ada partai-partai Islam? Apakah anda menganggap mereka gagal?
J: Ya partai-partai Islam itu biarkan saja bekerja menurut cara mereka. Toh dilarang juga mereka tak akan berhenti. Bisa-bisa malah ngamuk kan? Ha ha!
T: Saya bertanya: "Apakah anda mengganggap mereka gagal?"
J: Gagal bersatu; itu kan kenyataan sejak dulu. Sejak negara ini berdiri. Dan, kalau gagal bersatu, apa mereka bisa jadi kuat?
T: Karena itu, anda punya obsesi untuk mempersatukan mereka?
B: Tidak. Untuk apa memelihara obsesi atau ambisi mempersatukan mereka? Walau tidak boleh diremehkan, mereka kan hanya orang-orang elite! Padahal kekuatan Islam itu justru pada umat awam, pada rakyat. Sebab, elite itu sedikit, sedangkan rakyat itu banyak. Kalau para elite sibuk sendiri-sendiri, mengejar obsesi dan ambisi sendiri-sendiri, umat yang awam tentunya harus bangkit dari keterpurukan, belajar mengurusi diri sendiri.
T: Tapi, bukankah umat awam itu membutuhkan para elite untuk memimpin mereka bangkit dari keterpurukan?
J: Ya, tapi bukan elite politik, atau elite agama yang asyik berpolitik. Umat awam itu hanya membutuhkan para elite muslim yang hanif.
T: Misalnya seperti apa?
B: Elite itu kan artinya a group of people who are the richest, most powerful, best educated etc people in society, and who do not want others to share the advantages of their position. (Sekelompok orang dalam masyarakat yang berstatus paling kaya, sangat berkuasa, berpendidikan terbaik, dan mereka tidak mau berbagi posisi dengan kalangan lain). Begitu menurut sebuah kamus. Nah, kalau yang dimaksud elite itu seperti itu, yaa, mereka memang tidak merasa harus peduli pada umat awam atau rakyat jelata. Sebaliknya, umat awam juga tidak membutuhkan mereka.
T: Tadi anda menyebut "para elite muslim yang hanif". Gambaran anda tentang mereka itu seperti apa?
J: Kira-kira seperti para sahabat Nabi Muhammad lah!
T: Wow! Begitu ya? Dan anda, maksud saya PIPB mempunyai orang-orang seperti itu?
J: Belum sih! Tapi kalau yang mendekati mereka, yang berusaha menjadi seperti mereka, yaa sudah ada lah!
T: Jadi, mereka itulah orang-orang elitenya PIPB ya?
J: Ya. Tapi elite dalam kehanifan ya! Elite dalam hasrat dan semangat untuk menikuti keteladanan Rasulullah.
T: Sekali lagi, PIPB sudah mempunyai orang-orang seperti itu?
J: Insya-Allah!
T: Dan mereka dengan PIPB hanya akan mengurusi umat Islam?
J: Ya!
T: Kenapa?
J: Karena mengurusi mereka saja pun sudah cukup merepotkan. Dan, sebaliknya, kalau mereka sudah terurus, pastilah bangsa kita ini bisa mencapai tujuan seperti yang tertulis dalam UUD itu.
T: Tapi, apa iya PIPB mampu mengurusi mereka?
J: Yaa kita coba saja. Lagi pula, sebenarnya PIPB bukan mau mengurusi mereka. Cuma mengajak mereka bergabung, lalu kita sama-sama mengurusi diri, mengurusi umat, mengurusi bangsa, dan ikut mengurusi dunia, kalau bisa.
T: O, begitu ya? Tapi, apa iya partai macam PIPB ini bisa jalan?
J: Blog ini adalah tanda bahwaPIPB sudah jalan, dan kita akan jalan terus, sampai berhasil atau sama sekali memang tidak bisa berjalan.
T: Saya curiga. Jangan-jangan sebenarnya anda ingin membuat partai politik tapi tidak punya duit!
J: Seandainya sekarang saya punya duit, saya tidak akan bikin partai politik! Saya tetap akan bikin Partai Islam Para Bogrrr ini!
(BERSAMBUNG)
Langganan:
Postingan (Atom)


